Merayakan HUT Indonesia yang ke 81

17 Agustus 2026, Indonesia memasuki usia yang ke-81. Menyambut HUT Indonesia ini, tradisi yang dihidupi masyarakat ialah melaksanakan upacara dan juga lomba-lomba yang biasanya disebut lomba 17 Agustus. Menariknya, lomba 17 Agustus mula muncul pada tahun 1950 atau pada HUT RI yang ke-5. Pada saat itu, masyarakat beratusias untuk memeriahkan kemerdekaan yang berhasil dicapai oleh Indonesia dengan cara yang menyenangkan (Kemendiksasmen). Di balik lomba-lomba yang dilaksanakan seperti balap karung, tarik tambang, makan kerupuk, dsbnya terdapat nilai-nilai seperti perjuangan, kebersamaan, dan persatuan.
Gereja pada dasarnya tidak bisa dipisahkan dari masyarakat. Hal tersebut tentu bertolak dari Yesus yang hadir di tengah kehidupan sosial. Ia tidak menyelamatkan dan memulihkan manusia dari ruang hampa, melainkan secara nyata bersentuhan langsung dengan manusia. Maka dari itu jika gereja sebagai perpanjangan tangan Allah, ia juga mesti bersentuhan langsung dengan kehidupan sosial. GKSBS Metro sebagai bagian dari masyarakat Indonesia tentu mengahyati HUT RI ke-81 melalui kegiatan yang dilakukan sepanjang bulan Agustus. Salah satunya dapat dilihat melalui kegiatan Wilayah Hadimulyo yang menyemarakan HUT RI ke-81 dengan melaksanakan lomba-lomba pada 18 Agustus 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Rumah Kayu, 21C – Yosomulyo, Metro Timur. Perlobaan-perlombaan ini bertujuan memupuk rasa persatuan, mengenang semangat juang para pahlawan, serta mempererat gotong royong antar jemaat di wilayah hadimulyo. Yang di ikuti oleh 8 anak dan 37 jemaat dewasa. Gereja bersama Majelis Jemaat Wilayah dan Panitia senantiasa berusaha menghadirkan sebuah kegiatan yang tidak monoton atau hanya sekedar kegiatan rutinitas mingguan dengan harapan banyak jemaat khususnya keluarga-keluarga muda yang tertarik untuk bergabung dalam kegiatan persekutuan – persekutuan yang ada, di tengah padatnya kegiatan yang di miliki oleh masing – masing jemaat. Pantia mengadakan 4 jenis perlombaan, dengan rincian 2 jenis perlobaan untuk anak – anak berupa lomba makan kerupuk dan memecahkan balon, sedangkan 2 jenis perlombaan lagi untuk dewasa yaitu lomba sedotan karet dan lomba klasik berupa lomba makan kerupuk.
Acap kali lomba 17 Agustus dipahami sebagai seremonial semata atas bertambah usianya bangsa Indonesia. Dibalik semua itu, ada nilai yang perlu direfleksikan secara bersama yakni persatuan. Dalam kehidupan masa kini ada banyak hal yang mampu menghilangkan nilai persatuan. Teknologi menjadi salah satunya. Gadget yang ada dalam genggaman kita mampu mendistorsi kesatuan. Sebagai contoh ketika sedang bersekutu bersama atau sekedar ngobrol, handphone kita mampu membuat diri ini masuk dalam dimensi digital dan mengabaikan dimensi rill. Salah satu gejala hilangnya kesatuan yakni munculnya nirempati. Nirempati ialah kondisi tidak mampu memahami atau tidak memahami, merasakan, serta peduli terhadap perasaan dan kebutuhan emosional orang lain. Hal tersebut sudah diberitakan Paulus dalam 1 Korintus 12:12-20. Paulus berupaya mengingatkan jemaat di Korintus tentang persatuan dengan menghadirkan kosep satu tubuh. Konsep ini menekankan tentang empati pada yang lainnya. Empati tidak sama dengan “kasihan”. Empati justru tidak muncul dari “kasihan” melainkan memahami secara utuh kondisi seseorang. Seluruh indra manusia digunakan untuk memahaminya, bukan hanya dengan hati. Paulus sendiri menyatakan bahwa semua anggota tubuh saling terhubung dan bergantung satu dengan lainnya. Ketika satu anggota merasakan sesuatu maka secara menyeluruh anggota yang lain juga merasakannya dengan jelas. Maka dari itu, menumbuhkan kembali empati di era gemburan digitalisasi perlu kembali kita hadirkan dalam setiap kehidupan kita dan dimulailah dari rumah kita.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *